//
HEART OF PAYAKUMBUH

Payakumbuh, 21 Agustus 2025 – Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Bappeda Kota Payakumbuh bersama Tim Peneliti Program Studi Arsitektur Universitas Bung Hatta  menggelar Focus Group Discussion (FGD) Awal sebagai langkah strategis dalam mengkaji dan mengembangkan arsitektur pusat perkotaan Payakumbuh. FGD yang diadakan di Aula Bappeda Kota Payakumbuh ini bertujuan untuk merumuskan konsep revitalisasi yang relevan dan berkelanjutan, khususnya bagi area pusat pertokoan yang menjadi jantung perekonomian kota.

Hafiza, S.Si, ME, Kabid Litbang Bappeda Kota Payakumbuh dalam sambutannya berharap agar dengan adanya penelitian ini, akan muncul ide dari Tim Peneliti Program Studi Arsitektur Universitas Bung Hatta sehingga pemerintah kota Payakumbuh dapat rekomendasi yang akurat tentang kebijakan apa yang bisa pemerintah kota Payakumbuh buat untuk mengembangkan pusat pertokoan yang berdampak terhadap peningkatan perekonomian Payakumbuh. Sehingga kedepannya Kota Payakumbuh tidak lagi menjadi kota persinggahan, melainkan menjadi kota objek tujuan. Sekretaris Bappeda Nila Misna, S.Si MP yang membuka acara FGD ini mengemukaakan masalah pertokoan pasar lantai 2 Payakumbuh tidak optimal pemanfaatannya, Beliau berharap dari kajian ini, pemko akan tau apa yang harus ditelaah dari masalah ini, dan akan didapatkan apa strategi kedepan yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Dalam FGD awal ini juga ditekankan pentingnya revitalisasi agar pusat kota dapat tetap relevan dan berdaya saing di masa depan. Kerjasama dengan Tim Peneliti Program Studi Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi arsitektur yang tidak hanya estetik, tetapi juga fungsional dan berakar pada kearifan lokal.

Dr. Al Busyra Fuadi, ST., M.Sc dalam paparannya menjelaskan Pusat pertokoan di Payakumbuh telah lama menjadi motor penggerak ekonomi regional, terutama di sektor perdagangan dan jasa. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kawasan ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persaingan dengan pasar modern dan digital, hingga isu-isu tata ruang serta kenyamanan bagi pengunjung dan pelaku UMKM. Salah satu tugas besar kita hari ini adalah mendefinisikan kembali kawasan pusat kota Payakumbuh. pusat kota adalah inti kehidupan kota, tempat berkumpulnya fungsi ekonomi, sosial, budaya, pemerintahan, dan menjadi pusat identitas suatu kota

Tim peneliti UBH memaparkan hasil kajian awal mereka, menyoroti perjalanan panjang Kota Payakumbuh yang bermula dari konsep "Payakumbuh adalah pakan/pasar". Konsep ini menunjukkan bahwa sejak awal, fungsi perdagangan adalah orientasi utama kota. Meskipun sempat bergeser menjadi pusat pemerintahan, Payakumbuh kini kembali ke identitas awalnya sebagai kota pakan, yang tecermin dari rencana pembangunan pusat perbelanjaan modern.

Beberapa poin penting dari paparan tim peneliti UBH mencakup:

  • Konsep Awal dan Stagnasi: Perjalanan sejarah kota menunjukkan adanya pergeseran dan bahkan stagnasi spasial. Saat ini, pembangunan seperti rencana Jalan Tol Padang-Pekanbaru berpotensi membuat Payakumbuh menjadi kota yang "dilewati," bukan "disinggahi."
  • Ruang Ekonomi Tradisional: Konsep "BASUO" diangkat sebagai basis keberlanjutan ruang ekonomi tradisional, menekankan bahwa nilai ekonomi di pasar tidak hanya soal materi, tetapi juga terikat dengan nilai sosial dan bathiniah masyarakat.
  • Isu Pasar Padang Kaduduak: Pembangunan Pasar Rakyat II di Padang Kaduduak yang saat ini "mati suri" menjadi salah satu isu penting. Tim peneliti menggarisbawahi perlunya revitalisasi dan pemanfaatan yang optimal agar pasar ini bisa berfungsi sesuai tujuannya.

FGD ini tidak hanya membahas arsitektur fisik, tetapi juga visi besar untuk menjadikan Payakumbuh sebagai "Livable City" atau kota yang layak huni. Visi ini mencakup beberapa indikator utama, seperti:

  • Ramah Lingkungan: Peduli terhadap ruang publik, ruang terbuka hijau, serta transportasi berkelanjutan.
  • Ramah Sosial: Menciptakan ruang interaksi, inklusivitas, dan melestarikan budaya lokal.
  • Ramah Infrastruktur: Ketersediaan fasilitas publik yang mudah diakses dan tata kota yang manusiawi.
  • Ramah Ekonomi: Memberikan ruang bagi kegiatan ekonomi tradisional dan modern yang terintegrasi, serta pemerataan kesempatan kerja.
  • Ramah Budaya dan Beridentitas: Menjaga keterikatan kuat dengan sejarah, seni, dan arsitektur kota.

FGD ini mengerucut pada satu mimpi besar: mengubah Payakumbuh dari kota persinggahan menjadi kota tujuan. Konsep "Heart of Payakumbuh" diusung sebagai inti dari revitalisasi ini, yang dimaknai sebagai pusat kehidupan kota secara geografis, ekonomi, budaya, dan sosial.

Rencana konsep ini berfokus pada:

  1. Localitas sebagai identitas utama dalam konsep perencanaan: Menggali kembali kearifan lokal seperti konsep pasar (pakan), kampung tradisional, bangunan bersejarah, dan surau dagang untuk ditransformasikan menjadi format modern.
  2. Mengembalikan Pinang ke Tampuaknyo: Menghidupkan kembali fungsi Pakan Akad di pusat kota dan mengisinya dengan fungsi-fungsi baru yang relevan dengan tantangan saat ini.
  3. Kota yang livable bagi masyarakatnya yang dibangun berdasar pada sense of place: Menciptakan "sense of place" yang kuat, di mana masyarakat merasa memiliki ikatan emosional dan makna terhadap kotanya.

Dengan sinergi antara pemerintah kota dan akademisi, diharapkan kajian strategi ini dapat menghasilkan rekomendasi arsitektur yang konkret dan inovatif, menjadikan pusat perkotaan Payakumbuh sebagai ruang yang tidak hanya ramai secara ekonomi, tetapi juga kaya akan identitas dan budaya.

Rencana Pemerintah Kota Payakumbuh untuk merevitalisasi pasar mendapatkan tanggapan dari para pedagang. Mereka berharap Pemko tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dan melibatkan para pedagang secara langsung dalam setiap tahap perencanaannya.

Hal ini disampaikan oleh Dian, perwakilan dari Ikatan Pedagang Payakumbuh Pasar Atas (IP3). Ia menekankan pentingnya mengidentifikasi permasalahan yang ada di pasar sebelum merumuskan strategi kebijakan. "Kuliti dulu masalah yang ada, baru carikan strategi arah kebijakannya," ujar Dian. Ia juga menyarankan agar Pemko melibatkan para pemikir asli Payakumbuh dan memanfaatkan teknologi digital untuk menghidupkan kembali pasar yang saat ini dinilai lesu. Menurutnya, masalah utama seperti Peraturan Daerah (Perda) dan status kepemilikan toko harus diselesaikan terlebih dahulu.

Senada dengan itu, Dedi, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pasar, juga berharap agar pedagang dilibatkan dalam perencanaan pembangunan fisik pasar. "Agar pemerintah tahu kendala yang ada dan tidak mubazir anggaran, tidak tepat guna," kata Dedi. Ia menegaskan bahwa para pedagang sangat mendukung rehabilitasi pasar, asalkan pelaksanaannya tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh pihak. "Para pedagang berharap ada peran pemerintah untuk meramaikan pasar," tambahnya. Secara keseluruhan, para pedagang berharap agar Pemko Payakumbuh berpikir untuk rakyat, bukan hanya sekadar menjalankan proyek semata. (DS)