Diseminasi Kajian Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan 3D serta Aplikasinya pada Pertanian Terpadu

Kota Payakumbuh sebagai Kota Kecil dengan luas wilayah 80,43 km2 memiliki 5 kecamatan yaitu Kecamatan yang dikelilingi oleh Kabupaten 50 Kota. Penggunaan lahan oleh masyarakat di Kota Payakumbuh sebesar 63,10% atau 5.075 km2 untuk pertanian yang didominasi oleh lahan persawahan dimana lahan pertanian terluas terdapat pada Kecamatan Payakumbuh Timur.
Penggunaan lahan di Kota Payakumbuh untuk pertanian sangat lah tepat dikarenakan hasil dari kajian kemampuan lahan yang diseminasikan menunjukkan hampir seluruh di Kota Payakumbuh merupakan lahan terbaik untuk pertanian intensif dan hanya pada lahan berlereng kemiringan<15% dengan pertanian intensif terbatas yang dibuktikan dengan hasil pemindaian berupa peta digital 3D.
Pada peta tersebut juga tergambar petak-petak sawah masyarakat yang posisinya memang pada lahan yang produktif. Oleh karenanya untuk menjaga kondisi tersebut agar lahan-lahan di Kota Payakumbuh tetap produktif, maka perlu kiranya melakukan konservasi terhadap tanah dan air yang tergambar pada gambar dibawah ini agar sesuai dengan tanaman yang akan ditanam nantinya sehingga produktifitas dari lahan pertanian dapat ditingkatkan.
Kajian kemampuan lahan ini dalam menghasilkan peta 3D menggunakan aplikasi Surfer 9, GPS, Visualizer, TCX Converter, Ms. Excel, dan Google Earth. 
Dari hasil pemetaan tersebut ditemukan/ direkomendasikan beberapa tanaman yang sangat cocok untuk ditanam di Kota Payakumbuh yang disesuaikan dengan iklim dan sifat tanah yaitu sebanayk 72 tanaman, sedangkan 30 jenis tanaman dikategorikan kurang layak dan 11 tanaman yang tidak layak untuk dikembangkan di Kota Payakumbuh. 
Dalam prakteknya di lapangan oleh masyarakat, mungkin ditemukan beberapa dari 11 tanaman yang tidak layak untuk dikembangkan di Kota Payakumbuh, ternyata berhasil dikembangkan pada beberapa demplot yang ada di Kota Payakumbuh. Namun dari hasil pemetaan yang kami lakukan, sebaiknya pengembangan 11 tanaman yang tidak layak tersebut jangan dijadikan sebagai pengembangan skala besar, karena nantinya akan membutuhkan biaya serta teknologi yang tinggi. Hasil kajian kami dari beberapa tanaman yang tidak layak dikembangkan tersebut, berhasil dikembangkan di Kota Payakumbuh, hal ini terjadi karena adanya iklim mikro yang terjadi pada sekitar demplot pengembangan tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh dan menghasilkan, namun jika dibawakan menjadi skala besar, dikhawatirkan akan mendatangkan kerugian yang cukup besar.
Selain itu pembakaran lahan sesudah panen juga sangatlah tidak dianjurkan karena akan menyebabkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan menghasilkan akan mengkristal sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menguraikannya dan dapat berakibat penurunan kualitas dan kuantitas hasil produksi lahan. Apalagi di kota Payakumbuh lahan pertaniannya didominasi oleh lahan persawahan yang merupaka lahan yang digunakan untuk menanam padi. Peningkatan produktifitas padi terjadi jika padi mendapatkan unsur silika yang bersumber dari jerami dan sekam yang telah dihasilkan oleh padi tersebut. Jika dilakukan pembakaran jerami dan sekam, akan menyebabkan silika tersebut mengkristal sehingga tidak dapat diserap oleh padi. Hal inilah yang menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas lahan persawahan. 
Langkah Pemerintah Kota Payakumbuh menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 01 Tahun 2021 tentan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjuta sangat lah tepat untuk menjaga simultanitas produksi pertanian, dimana dengan perkembangan zaman saat ini, jika tidak dilakukan pembatasan, maka dapat dipastikan alihfungsi lahan dapat terjadi, dan dengan kondisi tersebut lahan yang tadinya produktif bisa menjadi lahan yang tidak produktif atau lebih parahnya lagi menjadi lahan kritis. Untuk mengembalikan kondisi lahan kritis tersebut menjadi satu tingkat diatasnya perlu bertahun-tahun apalagi untuk mengubahnya menjadi lahan produktif kembali akan memakan waktu yang lebih lama. Oleh karenanya dengan telah meilhat potensi dan gambaran petas secara 3D ini kiranya masyarakat dan pemerintah Kota benar-benar dapat mempertahankan keberlanjutan lahan pertanian tersebut, sehingga kebutuhan pokok masyarakat tetap dapat dipenuhi, karena pada akhirnya ketika terjadi bencana seperti era COVID-19 saat ini, sektor pertanian lah yang tidak terdampak terlalu besar.

Ini Dia 5 Teknik Penting Cara Menanam Semangka

Semangka adalah tanaman merambat yang berasal dari daerah setengah gurun di Afrika bagian selatan. Tanaman yang bernama latin Citrullus lanatus var.lanatus ini masih sekerabat dengan labu-labuan, melon dan ketimun. Semangka biasa dipanen buahnya untuk dimakan segar atau dibuat jus.  Siapa yang tidak suka dengan buah semangka ? Buah ini tidak hanya menyegarkan dan enak dinikmati, tapi juga sangat baik untuk kesehatan. Semangka memiliki kandungan rendah karbohidrat dan kalori serta tinggi serat, asam amino seperti l-citrulline dan karotenoid seperti likopen. Dalam segelas jus semangka hanya memiliki 46 kalori tapi kaya akan vitamin C, vitamin A, serta sejumlah senyawa tanaman yang sehat lainnya.

 

Semangka merupakan jenis tanaman generatif yang berkembang biak melalui biji. Jumlah biji dalam satu buah semangka cukup banyak, sehingga keberadaan biji tersebut mengurangi ke”syahduan” saat mengkonsumsi buah ini. Nikmatnya daging buah yang manis sering terganggu dengan pahitnya rasa biji semangka yang “tergigit” tanpa sengaja. Pertimbangan “kenyamanan” konsumen kemudian menjadi latar belakang munculnya gagasan rekayasa semangka tanpa biji. Semangka non-biji (seedless) pada dasarnya merupakan inovasi melalui rekayasa genetika. Secara genetis, semangka non-biji mempunyai susunan khromosom triploid (3N), sedangkan semangka berbiji mempunyai susunan khromosom diploid (2N). Penelitian semangka non-biji dimulai oleh Jepang pada tahun 1938 dengan ahli pemulia tanamannya yang terkenal yaitu Profesor Hitoshi Kihara dan Dr. Norio Kondo. Pada tahun 1950-an petani Jepang sudah mulai membudidayakan semangka non-biji, sedangkan Amerika baru mulai menelitinya. Namun akhir-akhir ini Taiwan muncul sebagai kekuatan baru di sektor industri benih hibrida unggul, sehingga tidaklah mengherankan apabila benih-benih semangka berbiji maupun non-biji yang beredar dipasaran saat ini berasal dari Taiwan. Yah untuk urusan biji semangka saja manusia terus berinovasi agar menghasilkan nilai tambah baik untuk kepentingan kepuasan konsumen maupun untuk keperluan pembudidaya agar mendapatkan benih dari biji yang berkualitas tinggi. 

 

Cara Menanam Semangka Kuning di Polybag | KampusTani.ComPada awalnya Semangka kuning adalah mutasi alami. Dalam kondisi tertentu terdapat buah semangka yang mengalami kekurangan kandungan likopen sehingga membuatnya berwarna kuning. Likopen adalah senyawa yang memproduksi pigmen kemerahan pada buah maupun sayur, termasuk semangka merah. Secara naluriah manusia cenderung tertarik dengan hal-hal baru, kecendrungan inilah yang diekplotasi dalam strategi bisnis. Saat ditemukan Semangka bewarna kuning, ini menjadi daya tarik sehingga menyebabkan permintaan konsumen jadi meningkat dan tentu harganya menjadi lebih mahal ketimbang semangka merah.  Melihat peluang pasar dan harga yang lebih tinggi semangka kuning kemudian dikembangkan menjadi varietas baru. Kalau umur kita sama panjang, mungkin suatu saat kita akan bertemu dengan semangka warna ungu atau jingga…

Ternyata “utak atik gathuk” manusia terhadap semangka tidak terbatas soal  biji dan warna saja, berikut beralih ke soal bentuk. Pada tahun 1990an, Zentsuji, seorang petani semangka di Negeri Matahari Terbit , melakukan eksperimen membuat semangka kotak. Latar belakang ide membuat semangka kotak adalah; semangka bulat akan boros tempat ketika diangkut dan disimpan dalam cold stroage. Dengan bentuk kotak (kubus), buah semangka menjadi ringkas dalam mobil boks dan cold stroage. Tetapi semangka kotak tidak mungkin diperoleh melalui rekayasa genetika seperti halnya menciptakan semangka tanpa biji. Maka Zentsuji pun ”memasung” tiap buah semangka di ladangnya dengan kotak kaca sejak masih pentil. Karena terdesak kotak kaca, maka pertumbuhan tidak menjadi bulat melainkan kubus. Bahan kaca dipilih sebagai ”pemasung”, untuk tetap memberikan warna alamiah kulit buah. Inovasi ini ternyata bukan saja menghasilkan kemudahan dalam pengangkutan dan penyimpanan tapi lebih dari itu semangka kotak menjadi buah yang menarik, unik dan bernilai jual tinggi. Di Jepang Semangka Kotak dihargai 1,2 juta rupiah per buah, bandingkan dengan Semangka bulat yang di Indonesia dihargai Rp. 60.000 per buah.

Semangka di Jepang ini berbentuk kotak , WOW , sungguh aneh .