PAYAKUMBUH — Pegawai Bappeda Kota Payakumbuh mengikuti pengajian untuk memperkuat keimanan di Aula Bappeda pada Jumat (28/8/2026). Kajian keagamaan yang berlangsung hangat ini menghadirkan penceramah Ustadz Abdurrahman Addify, Lc, yang membawakan materi bertajuk "Lebih Baik dari Rencanamu".
Dalam tausiyahnya, Ustadz Abdurrahman Addify menekankan pentingnya kesadaran bahwa manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Beliau mengutip surah Al-Baqarah ayat 216:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Berdasarkan ayat tersebut, Ustadz Abdurrahman memberi perumpamaan tentang kewajiban berperang bagi laki-laki. Secara naluri, perang adalah hal yang dibenci, namun di mata Allah justru bisa menjadi yang terbaik.
"Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui. Allah memiliki skenario yang jauh lebih indah dan baik untuk kita, meskipun rencana-Nya itu sering kali tidak langsung ditunjukkan kepada kita. Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana," tegas Ustadz Abdurrahman Addify di hadapan pegawai Bappeda.
Sebagai jajaran yang bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), para pegawai bergelut langsung dengan penyusunan strategi dan program kerja setiap harinya. Namun, Ustadz Abdurrahman mengingatkan bahwa aspek utama yang harus melandasi tugas abdi negara adalah fondasi iman kepada Allah SWT.
Ketika ada rencana kerja atau target hidup yang tidak berjalan sesuai harapan, seorang mukmin diimbau untuk tidak berkecil hati. Ada kebaikan tersembunyi (hikmah) di balik setiap kegagalan atau penundaan rencana tersebut. Manusia pada dasarnya tidak diwajibkan untuk menyingkap atau mencari tahu seluruh hikmah di balik peristiwa, melainkan dituntut untuk terus memegang teguh Rukun Iman yang keenam, yaitu beriman kepada Qada dan Qadar.
Di sisi Allah, tidak ada takdir yang mutlak buruk. Anggapan "buruk" kerap kali hanya lahir dari sudut pandang keterbatasan manusia. Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan, di mana di balik setiap ketetapan-Nya senantiasa tersimpan hikmah yang agung.
Menjaga Etika Komunikasi dan Prasangka Baik
Selain masalah ketetapan takdir, Ustadz Abdurrahman Addify juga menyelipkan pesan moral mendalam terkait etika berinteraksi di lingkungan kerja. Beliau mencontohkan perintah Allah kepada Nabi Musa AS untuk tetap berkata lembut saat menghadapi Firaun—sosok manusia paling durhaka.
"Kepada Firaun yang begitu mendurhakai Allah saja Nabi Musa diperintahkan untuk berkata santun dan lembut, apalagi kepada sesama kita: kepada pimpinan, bawahan, serta rekan-rekan kerja di kantor," tuturnya.
Beliau memungkasi tausiyah dengan mengingatkan jamaah agar tidak berprasangka buruk (su'udzon) kepada Allah. Apa pun yang tampak menyulitkan di mata manusia, sebenarnya sedang disiapkan pengganti yang jauh lebih baik oleh Allah.
Pegawai Bappeda juga diajak untuk tidak risau saat menghadapi ujian hidup. Ujian terberat sepanjang sejarah justru diberikan kepada para Nabi. Jika hidup seseorang berjalan tanpa ujian sama sekali, hendaknya ia bermuhasabah, karena ujian merupakan pertanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Hal terpenting bukanlah seberapa besar kita mengklaim mencintai Allah, melainkan bagaimana memastikan Allah mencintai kita dan kita mampu ridha atas segala ketentuan-Nya. Kajian ini ditutup dengan ajakan untuk terus memperbanyak doa dan berserah diri secara penuh kepada Sang Maha Pencipta. (DS)